Friday, 27 March 2015

POLIPLOIDI

Poliploid merupakan organisme yang memiliki tiga atau lebih kromosom dalam sel-selnya. Sementara poliploidi diartikan sebagai peristiwa organisme memiliki set kromosom lebih dari sepasang, sedangkan poliploidisasi merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menghasilkan organisme poliploid (Sulistianingsih et al., 2004). Penggandaan kromosom atau poliploidi daat dikatakan sebagai salah satu upaya seleksi untuk meningkatkan mutu tumbuhan baik berupa peningkatan mutu tumbuhan baik berupa peningkatan kandungan metabolit sekunder maupun toleransinya terhadap faktor lingkungan terutama lingkungan ekstrim (Fajrina A., et al., 2012).
       Poliploidi bisa terjadi secara alami maupun secara buatan. Poliploidi secara buatan melibatkan campur tangan manusia sedangkan poliploidi alami terjadi tanpa unsur kesengajaan. Penyebab terjadinya poliploidi secara alami adalah karena faktor-faktor lingkungan sekitar makhluk hidup yang meliputi faktor suhu, tekanan, ketinggian tempat, dan lain-lain. Selain itu poliploidi alami juga bisa disebabkan oleh persilangan individu poliploid yang diikuti dengan gangguan selama proses pembelahan sel. poliploidi juga bisa terjadi karena kegagalan meiosis sehingga terbentuk gamet diploid (2n) yang nantinya akan dibuahi gamet haploid (1n) sehingga akan dihasilkan individu triploid (3n). Kegagalan meiosis tersebut mungkin disebabkan oleh rusaknya gelendong-gelendong pembelahan sehingga kromosom tidak memisah selama anafase. Kerusakan gelendong tersebut adalah akibat adanya perubahan kondisi lingkungan luar, seperti perubahan suhu, pH, dan tekanan, dan juga adanya zat-zat kimia yang bisa menyebabkan rusaknya protein-protein tubuler yang menyusun gelendong-gelendong pembelahan.Secara umum poliploidi terbagi dua kelompok, yaitu:
1.      Euplodi; suatu individu memiliki jumlah kromosom merupakan kelipatan seluruh set kromosom (genom).  Berdasarkan asal set kromosom yang dimiliki, pada tanaman euplodi terbagi dua kelompok, yaitu :
a.       Autopoliplodi; set kromosom berasal dari spesies yang sama atau berasal dari pengandaan kromosom sendiri, autopoliplodi memiliki set kromosom atau genom dasar yang merupakan pasangan kromosom homolog diantara mereka yang terlihat dari berpasangan kromosom pada waktu meiosis.  Yang termasuk autopoliploidi adalah : Triploid (3x), Tetraploid (4x), Pentaploid (5x), Heksaploid (6x), Septaploid (7x), dan Octaploid (8x).
b.      Alopoliplodi; set kromosom berasal dari spesies yang berbeda, alopoliplodi bisa terjadi karena persilangan alami maupun persilangan buatan.  Contoh persilangan alami adalah gandum/wheat (Triticum aestivum) yang merupakan aloheksaploid genom AABBDD (2n=6x=42), genom gandum/wheat (T. aestivum) berasal dari gandum einkorn (Triticum monococcum) diploid genom AA (2n=2x=14), gandum emmer (Triticum turgidum) genom BB (2n=2x=14), dan gandum liar (Triticum tauschii) diploid genom DD (2n=2x=14).  Evolusi gandum wheat berlangsung puluhan ribu tahun silam.  Aloploiploidi akibat persilangan buatan yang bertujuan mencari sifat ketahanan penyakit atau kondisi lingkungan tertentu, seperti contoh persilangan antara dua spesies padi budidaya (Oriza sativa) diploid genom AA (2n=2x=24) dengan spesies padi liar (Oriza officinalis) genom CC (2n=2x=24) yang kemudian mengalami pengandaan kromosomnya sehingga menjadi AACC (2n=2x=48).
2.       Aneuploid; individu dengan jumlah kromosom dalam inti selnya tidak merupakan kelipatan dari jumlah kromosom haploidnya, ketidakgenapan jumlah kromosom tersebut disebabkan oleh adanya penambahan atau kehilangan satu atau beberapa kromosom pada genomnya.  Aneuplodi terbentuk karena adanya penyimpangan segregasi kromosom dalam proses meiosis.  Satu pasang kromosom homolog atau satu kromatid mungkin tidak berpisah dalam metaphase (non-disjunction), kedua kromosom homolog atau kromosom-kromosom dalam pasanagan kromatid bermigrasi kearah satu kutub, sehingga pada kutub tersebut terdapat dua kromosom homolog sedangkan pada kutub yang lain kehilangan satu kromosom.  Kegagalan segregasi tersebut bias terjadi pada meiosis I yaitu dua kromosom homolog bergerak pada kutub yang sama atau pada meiosis II yaitu dua kromosom bersaudara menuju kutub yang sama.  Tipe-tipe aneuploid dikelompokan berdasarkan banyanya kromosom yang hilang dan atau bertambah dalam satu individu yaitu :
a.        Nulisomik          : 2n-2, kehilangan 2 kromosom homolog.
b.      Monosomik         : 2n-1, kehilangan 1 kromosom.
c.       Trisomik             : 2n+1, penambahan 1 kromosom.
d.      Tetrasomik          : 2n+2, penambahan 2 kromosom homolog
Peranan poliploidi dalam pemuliaan tanaman sangat banyak, antara lain untuk mendapatkan buah tanpa biji (seedless) seperti semangka tanpa biji dan anggur tanpa biji yang mengunakan metode triploid (3x), memasukan gen ketahanan terhadap penyakit maupun stress lingkungan dengan mengunakan metode alopoliploidi , sedangkan aneuplodi berguna untuk mempelajari genetic karakter tertentu, seperti dengan mengunakan metode trisomik yang dapat menentukan kromosom yang mana membawa lokus karena suatu fenotipe akan dipengaruhi oleh kromosom yang terlibat dalam aneuploidi.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
       Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid berwarna putih yang diperoleh dari umbi tanaman Colchichum autumnale L. (Famili Liliaceae). Senyawa ini dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga menyebabkan terbentuknya individu yang memiliki tiga atau lebih kromosom dalam sel-selnya (Eigsti dan Dustin, 1957; Suryo, 1995 dalam Suminah et al., 2001). Dikarenakan tidak terbentuk benang-benang spindel pada pembelahan mitosis yang dipengaruhi kolkisin, maka kromosom anak tidak bergerak kekutub-kutub set, tetapi tetap tinggal di tengah-tengah sebagai pasangan spesifik pada C-mtosis. Sehngga, terjadilah yang tetraploid atau autoploid. Benang spindel tidak terbentuk karena kolkisin yang diberikan menyebabkan sitoplasma menjadi cair. Benang-benang plasma yang membentuk benang spindel yang dianggap tdak terjadi karena mengentalnya sitoplasma karena pengaruh kolkisin. Hal tersebut yang menyebabkan fase-fase mitosis tidak normal, jadi hanya terhenti hingga fase metafase.
        



            Apa yang Aku Lakukan Hari Ini....
            Mimpi besar saya adalah membangun desa saya sendiri. Memang saya menyadari bahwa semenjak menjadi mahasiswa saya sadar bahwa diri saya punya tanggung jawab untuk tidak sekedar bertanggung jawab untuk diri sendiri, namun harus mampu bertanggung jawab untuk lingkungan khususnya masyarakat sekitar saya. Pengabdian adalah salah satu tri dharma yang di dalam maknanya setiap orang memaknainya berbeda-beda sesuai dengan persepsinya masing-masing. Namun, bagi saya pengabdian adalah keharusan bagi seseorang yang merasa dirinya peka terhadap kondisi sekitarnya, untuk ikut berkontribusi untuk membangun masyarakat untuk lebih baik. Tak mengharuskan dia adalah mahasiswa atau bukan, namun yang jelas semua orang berkewajiban untuk berkontribusi membangun negara ini untuk lebih baik. Namun, saya menganggap mereka yang mahasiswa lebih punya tanggung jawab besar untuk aplikasi salah satu tri dhama ini.
            Pendidikan sejatinya tidak hanya dibangun di kalangan sekolah, namun juga keluarga dan masyarakat. Di kalangan sekolah yang berperan adalah guru, sementara dalam keluarga adalah orang tua, dan di masyarakat adalah semua anggota masyarakat berperan untuk menciptakan atmosfer pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai yang baik.Oleh karenanya betapa pentingnya pendidikan di masyarakat. Mungkin banyak kalangan mengatakan tak mungkin lagi kita menerapkan “bali nang deso bangun deso” kembali ke desa untuk membangun desa, namun bagi saya itu tetap harus dilakukan oleh generasi muda, karena saya menyadari bahwa kalau bukan kita yang membangun desa mau siapa lagi. Apakah kita akan terus mendiamkan keadaan desa dalam kondisi diam? Tidak ditemui atmosfer karang taruna? Kalau banyak kaum muda yang lebih memilih keluar kota atau bahkan keluar negeri untuk bekerja, bagaimana dengan keadaan desa yang tetap dibiarkan? Pembangunan yang sebenarnya dimulai dari desa. Jadi bila pembangunan di desa baik mana baik pula pembangunan negeri ini. Nilai-nilai luhur, sopan santun, hanya dari pendidikan dimasyarakat kita belajar dan terapkan.
            Saya sendiri hidup di kalangan masyarakat yang bisa dikatakan tidak ada gebrakan atau keaktifan kaum muda, tidak ditemui karang taruna yang aktif dalam setiap agenda kemasyarakatan. Hampir tiga tahun keadaan seperti ini terjadi. Dan hal tersebut yang menyebabkan diri saya harus bisa menggerakan, dan memulainya kembali. Saya ingin melihat ada kemajuan di desa saya. Dan saya awali hal tersebut dengan pembentukan remaja masjid. Walaupun awalnya terasa berat, namun saya tetap nekat akan kemauan saya untuk bisa menggerakkan. Di sini saya belajar dan harus mengajarkan karena kebanyakan mereka adalah adik angkatan saya. Saya merasa bahwa mereka perlu untuk belajar dalam keorganisasian kemasyarakatan, walaupun dalam lingkup kecil namun saya ingin menciptakan media belajar bagi mereka. Planing saya selanjutnya adalah
1.      Pembentukan karang taruna baru
2.      Membentuk UMKM di desa saya untuk pemberdayaan kaum ibu-ibu
3.      Pembentukan paguyubaan kesenian karawitan untuk melestarikan budaya jawa, karena kebanyakan generasi saya sudah lupa atau bahkan tidak tahu akan budaya sendiri.
            Walaupun sekarang saya belum memulai, namun lambat laun itu inshaAlloh akan saya lakukan. Dalam tahap awal saya baru menyuntikkan gagasan ini ke beberapa tokoh masyarakat dan memulai penyusun proposal untuk kemudahan rencana saya.
            Dalam bidang keilmuan saya, saya telah mencobakan varietas padi sintia yang konon kata salah seorang dosen dengan input yang tepat akan menghasilkan 8 ton per ha. Namun, hal tersebut baru saya cobakan di lahan bapak saya. Harapannya ketika hal tersebut berhasil, harapan saya petani lain juga menggunakan varietas tersebut sehingga mampu meningkatkan produksi lahan pertaniannya. Misi besar saya di bidang pertanian adalah melakukan atau menggalakan kembali SLPHT (sekolah lapang pengendalian hama terpadu). Dimana dalam misi ini harapan saya bisa menyuntikkan sistem pertanian terpadu yang agar tetap sesuai dengan kondisi lingkungan. Pada intinya saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan saya belajar di pertanian, karena di sini saya sadar bahwa saya sebagai jalur jembatan antara petani buruh di desa saya dengan para pakar pertanian. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk meluangkan waktu berdiskusi dengan dosen terkait permasalahan yang sering dihadapi di kalangan petani di sekitar saya.
            Apa Impianku untuk Indonesia 2045
            Tahun tersebut adalah waktu dimana generasi saya bisa memulai untuk mengatur roda pemerintahan. Waktu dimana generasi saya berambisi hebat untuk Indonesia. Impian saya untuk Indonesia 2045.
-          Tidak akan terjadi lagi alih fungsi lahan pertanian
-          Indonesia sudah bisa swasembada pangan
-          Pertanian dapat dilakukan dengan aplikasi teknologi
-          Pertanian telah menerapkan pertanian vertikal
-          Tidak akan pernah melakukan impor lagi, negara bisa mengusahakan tanpa harus impor (impor sama dengan menyakiti/tidak menghargai petani).
-          Pertanian sebagai alat utama pembangunan negara
-          Sudah diterapkan hukuman mati untuk koruptor
-          Hasil bumi mampu dikelola negara tanpa kerjasama asing
-          Ada gerakan kaum muda membangun desa
Sebenarnya impian saya untuk Indonesia sangat banyak, namun impian utama saya adalah di tahun 2045 negara sudah mampu menjadikan pertanian sebagai sektor utama pembangunan. Dikarenakan bila pertanian di suatu negara hebat maka hebatlah negeri ini.
Pada dasarnya pembangunan suatu negara ditentukan oleh keadaan kaum mudanya. Nasib negara ini ditentukan oleh generasi mudanya sekarang. Saya memahami bahwa setiap orang telah memilih jalannya sendiri-sendiri untuk melakukan perannya untuk negeri ini. Dan saya pun demikian, saya memilih jalan saya sendiri untuk melakukan peran ini. Dan saya ingin memulainya dari lingkungan sekitar saya. Harapan saya setiap kaum muda mampu berpikir global, namun tindakannya lokal. Bahwa betapa pentingnya kita bertindak untuk lingkungan sekitar, namun impiannya luas untuk kemajuan negara. Karena dengan hal tersebut Indonesia akan lebih baik dan lebih baik.


Wednesday, 18 February 2015

LAPORAN PRAKTIKUM DIT KADAR LENGAS TANAH



ACARA I
KADAR LENGAS TANAH

ABSTRAK
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah dengan judul kadar lengas tanah dilaksanakan pada hari Selasa, 4 Maret 2014 di Laboratorium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kadar lengas tanah merupakan kandungan air di dalam pori tanah. Pada percobaan ini, menggunakan 5  jenis contoh tanah yaitu alfisol, entisol, vertisol, ultisol dan mollisol dengan ukuran diameter 0,5 mm, 2 mm, dan bongkah. Metode yang digunakan adalah metode gravimetri yaitu menghitung selisih berat lengas sebelum dan sesudah dikeringkan. Pada alfisol, kadar lengas tanah diameter 2 mm sebesar 11,05%, diameter 0,5 sebesar 11,145%, dan tanah bongkah 12,3%. Pada entisol, kadar lengas tanah diameter 2 mm sebesar 5,05%, diameter 0,5 mm sebesar 5,34%, dan tanah bongkah 2,52%. Kadar lengas tanah vertisol diameter 2 mm yaitu 13,02%, diameter 0,5 mm sebesar 12,715%, dan tanah bongkah sebesar 12,315%. Tanah ultisol diameter 2 mm kadar lengasnya 10,4565%, diameter 0,5 mm sebesar 15,392%, dan tanah bongkah 10,679%.Tanah mollisol diameter 2 mm kadar lengasnya 15,392%, diameter 0,5 mm 15,675&, tanah bongkah 16,857%. Hasil percobaan pengukuran kadar lengas selanjutnya dapat digunakan dalam perhitungan NPD.
Kata kunci           : kadar lengas, metode gravimetri


I.                   PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari tanah sangatlah dibutuhkan. Selain sebagai tempat berpijak, tanah juga merupakan media tanam bagi tumbuhan. Tanah merupakan tubuh alam bebas yang menduduki sebagian permukaan bumi yang memiliki sifat sebagai hasil interaksi kegiatan iklim dan jasad hidup terhadap bahan induk dalam keadaaan topografi dan jangka waktu tertentu. Komponen tanah (mineral, organik, air, dan udara) tersusun antara satu dengan yang lainnya membentuk struktur tanah.
Analisis tanah dapat berupa pengukuran secara kimiawi, fisika, dan biologi yang bertujuan untuk memahami sifat tanah dan kesesuaian dengan pertumbuhan tanaman. Padahal pertumbuhan tanaman tidak lepas dari kandungan air/lengas dalam tanah. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa tanah berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah. Selain itu lengas juga menyusun 2/3 bagian dari pori-pori tanah pada suhu kamar. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kandungan lengas pada jenis tanah tertentu.
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh berkembangnya perakaran penampang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara (Hanafiah, 2008)
Tanah juga merupakan lapisan terluar permukaan bumi yang berasal dari transformasi zat-zat mineral dan organik akibat dari adanya aktivitas iklim dan organisme dalam jangka waktu tertentu. Berbagai aktivitas tersebut akan mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam hal jenis, sifat, warna, dan tekstur tanah yang terbentuk. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh faktor iklim, topografi, bahan induk, organisme dan waktu (Sutanto, 2005).
Tanah memiliki berbagai jenis dan masing-masing memilki kapasitas yang berbeda untuk menahan air. Kemampuan ini bergantung pada beberapa parameter, seperti struktur dan tekstur tanah, vegetasi di daerah tersebut, kelembapan tanah, dan lain-lain. Beberapa teknik pengukuran adalah Soil Moisture Metes, Tensiometer, Neutron Moisture Meters, dan Soil Moisture Monitoring (Annonymous, 2010).
Air sangat penting dalam kehidupan manusia seperti dalam bidang pertanian dan industri. Air tanah yang mengisi bagian pori-pori antara zarah-zarah padat tanah disebut lengas tanah. Secara intensif, air tanah berpengaruh terhadap beberapa fraksi fisika, kimia, dan biologi. Air tanah bersifat dinamis, yaitu air tanah bergerak secara tetap dari suatu lokasi ke lokasi lain melalui perkolasi, evaporasi, evapotranspirasi, irigasi, presipitasi, limpasan (run off), dan drainase (Suharto, 2006).
Perlakuan kadar lengas tanah pada tanaman hidroponik, yaitu dengan cara menghentikan pengairan. Kandungan lengas tersebut dipertahankan dengan berbagai arus (Muljanto, 2007).
Laju perubahan kadar lengas dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah, seperti distribusi pori, kontinuitas pori, dan tortuositas pori. Laju perubahan kadar lengas dalam tanah dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah, sehingga hara terdistribusi secara merata pada zona perakaran (Wahyuni, 2006).

II.                METODOLOGI
Percobaan Dasar-dasar Ilmu Tanah acara I yang berjudul Kadar Lengas Tanah dilakukan pada hari Selasa, 4 Maret 2014 di Laboratorium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada percobaan ini, alat yang dibutuhkan antara lain 6 buah botol timbang, timbangan, dan oven. Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah contoh tanah halus masing-masing berdiameter 2 mm, 0,5 mm, dan tanah bongkah (agregat utuh).
Percobaan ini dimulai dengan memberi label pada 6 botol timbang kosong kemudian masing-masing botol kosong tertutup sumbat ditimbang (misal a gram). Setelah itu, 2/3 volume botol (±10 gram) diisi dengan contoh tanah 2 mm, 0,5 mm, dan tanah bongkah. Masing-masing dibuat 2 kali ulangan (duplo). Botol timbang berisi tanah (dengan tutupnya) ditimbang (misal b gram). Lalu botol dengan tutup sedikit terbuka dioven dengan suhu 105º-110ºC sampai kering mutlak (semalam). Botol dikeluarkan dari oven dan didinginkan di dalam desikator


III.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Kadar Lengas Berbagai Jenis Tanah.

No.
Jenis Tanah
Ukuran Tanah
% Ulangan 1
% Ulangan 2
Rata – rata
1
Alfisol
0,5 mm
11,13%
11,16%
11,145%
2 mm
11%
11,1%
11,05%
Bongkah
12,5%
12,1%
12,3%
2
Entisol
0,5 mm
5,36%
5,32%
5,34%
2 mm
5,05%

5,05%
Bongkah
2,59%
2,45%
2,52%
3
Vertisol
0,5 mm
12,72%
12,71%
12,715%
2 mm
13,04%
13%
13,02%
Bongkah
12,26%
12,36%
12,315%
4
Ultisol
0,5 mm
9,726%
9,515%
9,6205%
2 mm
10,489%
10,424%
10,457%
Bongkah
10,966%
10,392%
10,679%
5
Mollisol
0,5 mm
15,639%
15,711%
15,675%
2 mm
15,503%
15,281%
15,392%
Bongkah
16,312%
17,403%
16,857%
             
Adapun faktor yang mempengaruhi kadar lengas yaitu iklim, kandungan bahan organik, dan fraksi lempung tanah, topografi, serta adanya bahan penutup tanah (baik organik maupun anorganik). Iklim yang berpengaruh yaitu selisih curah hujan dan penguapan atau evaporasi, sebab akan menentukan tanah akan mengalami surplus ataupun defisit. Faktor bahan organik dan lempung berperan dalam penyimpan/penyekap air. Faktor relief/topografi mempengaruhi kandungan lengas tanah berkaitan dengan kecepatan air untuk terinfiltrasi dan mempercepat hilangnya lengas melalui aliran permukaan. Faktor penutup tanah dapat mengurangi proses evaporasi sehingga kandungan lengas lebih awet. Faktor penutup tanah misalnya seresah, kanopi tanamana, mulsa organik, cover crop, plastik, kain, dan kertas.
Pemahaman kadar lengas tanah sangat penting dalam pertanian karena melalui proses pengaturan lengas dapat diamati serapan hara dan pemapasan akar – akar tanaman yang berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu, kadang lengas dapat digunakan untuk mengetahui daya simpan lengas suatu jenis tanah, menduga kebutuhan pengairan, dan kebutuhan persawahan.
Dalam percobaan ini digunakan metode gravimetri, yaitu menghitung selisih berat lengas sebelum dan sesudah dikeringkan. Dari 5 contoh tanah dengan berbagai ukuran, diperoleh kadar lengas tanah alfisol diameter 2 mm sebesar 11,05%, diameter 0,5 sebesar 11,145%, dan tanah bongkah 12,3%. Pada entisol, kadar lengas tanah diameter 2 mm sebesar 5,05%, diameter 0,5 mm sebesar 5,34%, dan tanah bongkah 2,52%. Kadar lengas tanah vertisol diameter 2 mm yaitu 13,02%, diameter 0,5 mm sebesar 12,715%, dan tanah bongkah sebesar 12,315%. Tanah ultisol diameter 2 mm kadar lengasnya 10,4565%, diameter 0,5 mm sebesar 15,392%, dan tanah bongkah 10,679%. Tanah mollisol diameter 2 mm kadar lengasnya 15,392%, diameter 0,5 mm 15,675%, tanah bongkah 16,857%.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat perbandingan kadar lengas tiap jenis tanah, yaitu :
1.      Alfisol
Tanah alfisol merupakan tanah yang mengandung kapur tinggi dan memiliki tekstur berlempung, sehingga tingkat permeabilitasnya rendah. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh kadar lengas 11,145% untuk tanah berdiameter 0,5 mm, 11,05% untuk tanah berdiameter 2 mm, dan 12,3% untuk tanah bongkah. Kadar tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan jenis tanah lain. Dengan demikian, tanah alfisol memiliki daya serap air yang tinggi.
2.      Entisol
Entisol merupakan jenis tanah yang memiliki tekstur pasiran yang lebih tinggi dibandingnkan dengan lempung dan debunya. Oleh sebab itu, entisol masuk ke dalam kategori tanah yang mudah tererosi. Pori – pori di dalam tanah entisol memiliki luas permukaan kecil karena didominasi oleh permukaan pasir sehingga kemampuan menyerap air sangat rendah.
3.      Vertisol
Jenis tanah ini merupakan tanah dengan kandungan liat/lempung tinggi. Tanah vertisol berupa lempung dengan kandungan tinggi yaitu sekitar 50%, sehingga luas permukaan pori – pori tanahnya besar. Hal tersebut mengakibatkan tanah vertisol memiliki kemampuan menyerap air cukup tinggi.
4.      Ultisol
Tanah ultisol merupakan tanah dengan kandungan lempung rendah dan bersifat lembab. Hasil percobaan dengan teori yang ada terdapat perbedaan. Menurut teori, semakin kecil diameter tanah, luas permukaan akan semakin besar sehingga kadar lengas akan besar pula.
5.      Mollisol
Mollisol merupakan jenis tanah yang mempunyai kemiripan sifat dengan jenis tanah Rendzina. Tanah tersebut memiliki kadar lempung yang tinggi, tekstur tanah halus, dan permeabilitas rendah sehingga kemampuan menahan airnya tinggi.

IV.             KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu :
1.      Kadar lengas pada Alfisol diameter 0,5 mm = 11,45%, diameter 2 mm = 11,05%, bongkah = 12,3%. Untuk tanah Entisol, kadar lengas tanah diameter 0,5 mm = 5,34%, diameter 2 mm = 5,05%, bongkah = 2,52%. Kadar lengas tanah Vertisol diameter 0,5 mm = 12,715%, diameter 2 mm = 13,02%, bongkah = 12,315%. Jenis tanah Ultisol memiliki kadar lengas tanah diameter 0,5 mm = 9,6205%, diameter 2 mm = 10,465%, bongkah = 10,679%. Kadar lengas tanah mollisol diameter 0,5 mm = 15,676%,diameter 2 mm = 15,392%, bongkah = 16,857%.
2.      Urutan kadar lengas tanah dari yang tertinggi sampai yang terendah untuk diameter 0,5mm, 2 mm, dan tanah bongkah memilki kesamaan, yaitu Mollisol > Vertisol > Alfisol > Ultisol > Entisol.
3.      Perbedaan kadar lengas tanah tergantung pada intensitas pori – pori tanah. Faktor yang mempengaruhi yaitu iklim, kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan adanya bahan penutup tanah. Akan tetapi, faktor yang paling menentukan adalah bahan organik dan fraksi lempung tanah.

DAFTAR PUSTAKA
Annonymous. 2010. Soil Moisture Levels: Measuring and Monitoring Equipment (http:/www.buzzle.com/articles/soil-moisture-levels-measuring-and-monitoring-equipment.html). Diakses 6 Maret 2014, pukul 16:38.
Hanafiah, Kemas Ali. 2009. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali Putera.
Muljanto. 2007. Pemberian Kalium pada Perlakuan Cekaman Lengas. Jurnal Ilmu Pertanian 1 : 11-13
Novrizal dan Suwardji. 2007. Prospek Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas) pada Berbagai Orde Tanah di Pulau Lombok. Jurnal Litbang Pertanian.
Suharto, Edi. 2006. Kapasitas Simpanan Air Tanah pada Sistem Tata Guna Lahan LPP Tahura Raja Lele Bengkulu. Jurnal Ilmu – ilmu Pertanian Indonesia 8: 44 – 49.
Suranto, Rachman. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Kanisius.
Wahyuni. 2006. Menguji Kadar Lengas Tanah di Daerah Kaki Gunung Lawu. Jurnal Tanah dan Iklim 20: 16-20.